RELASI DAN RELEVANSI BELAJAR PARADIGMA DALAM FILSAFAT HUKUM

Relasi dan Relevansi Belajar Paradigma dalam Filsafat Hukum
Oleh : Arief Rachman Hakim.
NIM : B2A00320
Pengantar
Sebelum membahas lebih jauh mengenai Relasi dan Relevansi Belajar Paradigma dalam Filsafat Hukum saya mengajak untuk membahas mengenai Filsafat dan Hukum.
Bila kita kaji kepustakaan mengenai filsafat hukum, akan kita temukan mberbagai definisi,perumusan, ataupun uraian yang diutarakan pleh para penulismya.

A. Hukum dan Filsafat Hukum
Kebutuhan manusia pada dasarnya senantiasa berubah seiring dengan perubahan situasi dan kondisi kehidupan. Dipicu oleh hasrat keingin-tahuan untuk memahami realitas kehidupan di sekelilingnya serta semangat juang untuk memenuhi kebutuhannya yang terus berubah itu, manusia mau tidak mau harus mengembangkan ilmu pengetahuan. Di dalam upaya mengembangkan ilmu pengetahuan guna mengantisipasi proses perubahan ini, dari waktu ke waktu manusia perlu menemukan landasan berpikir baru di dalam kerangka khasanah disiplin ilmiah yang ada. Dalam kaitan ini, salah satu landasan berpikir baru yang belum banyak digagas adalah di bidang filsafat, utamanya filsafat hukum.
Filsafat yang bisa dianggap terjemahan dari kata ‘philosophie’ dapat dimaknai sebagai, a.l. :
o cinta kepada ilmu,
o suka kepada kebijaksanaan atau teman kebijaksanaan,
o cinta akan kebijaksanaan, yakni kebijaksanaan hidup.
Pada tataran teknis, Filsafat lebih diartikan sebagai :
o cinta akan kebijaksanaan hidup yang berkaitan dengan pikiran-pikiran rasional.
Filsafat juga dapat dipahami sebagai :
• usaha untuk memperoleh [ilmu] pengetahuan, semata-mata untuk kepentingan [ilmu] pengetahuan itu sendiri.
Filsafat juga senantiasa mengandung makna :
• ‘penyelidikan’ di dalamnya; yakni ‘penyelidikan’ dalam rangka mencari tahu tentang sifat asli dari dunia, sifat yang sedalam-dalamnya dari dunia, serta sifat yang sebenarnya dari hidup itu sendiri.
Apa yang dipikirkan Filsafat adalah hidup sebagai keseluruhan pengalaman dan pengertian. Karenanya, metoda yang khas bagi suatu pemikiran Filsafat ialah refleksi atas pengalaman-pengalaman dan pengertian-pengertian tentang sesuatu hal dalam cakrawala yang universal. Oleh sebab sifatnya yang universal ini, obyek Filsafat mencakup segala hal yang yang dialami manusia. Dalam hal ini, memikirkan sesuatu hal secara filsafati ialah mencari arti yang sebenarnya dari hal dimaksud dengan memandangnya dari cakrawala yang paling luas. Ini artinya, secara sederhana sebenarnya bisa dikatakan bahwa ‘berfilsafat adalah berpikir’.

B. Memahami Filsafat Hukum.
Dalam hal ini menurut para ahli arti dalam memahami filsafat hukum :
• Menurut Radbruch, Filsafat Hukum adalah cabang filsafat yang mempelajari hukum yang benar.
• Kelsen juga berpendapat bahwa Filsafat Hukum merupakan ilmu yang mencari pengetahuan tentang hukum yang benar serta hukum yang adil.
• Stammler menyatakan pula bahwa filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil
• Sedangkan bagi Langmeyer, Filsafat Hukum adalah pembahasan secara filosofis tentang hukum.
• Anthoni D’Amato mengistilahkan Filsafat Hukum sebagai Jurisprudence, yang acapkali dikonotasikan sebagai penelitian mendasar tentang pengertian hukum secara abstrak.
• Bruce D. Fischer juga mendefinisikan Jurisprudence sebagai suatu studi tentang filsafat hukum
[kata jurisprudence berasal dari bahasa Latin, yang berarti kebijaksanaan (prudence) yang berkenaan dengan hukum (juris)].
Kiranya dapat dipahami jika Filsafat Hukum relevan untuk membangun kondisi hukum yang sebenarnya, sebab tugas filsafat hukum adalah menjelaskan nilai dasar hukum secara filosofis yang mampu memformulasikan cita-cita keadilan, ketertiban di dalam kehidupan yang relevan dengan pernyataan-kenyataan hukum yang berlaku, bahkan merubah secara radikal dengan tekanan hasrat manusia melalui paradigma hukum baru guna memenuhi perkembangan hukum pada suatu masa dan tempat tertentu. Filsafat Hukum memberikan uraian yang rasional mengenai hukum sebagai upaya untuk memenuhi perkembangan hukum secara universal untuk menjamin kelangsungan di masa depan.
Duguit bahkan meyakini bahwa Filsafat Hukum memegang peranan penting dalam kegiatan penalaran dan penelaahan asas dan dasar etik dari pengawasan sosial, yang berkaitan dengan :
o tujuan-tujuan masyarakat,
o masalah-masalah hak asasi,
o kodrat alam.
Demikianlah, Filsafat Hukum bertolak dari renungan manusia yang cerdas, sebagai “subjek hukum”. Filsafat Hukum tak lepas dari manusia selaku subjek hukum maupun subjek filsafat, sebab manusia membutuhkan hukum, dan hanya manusia yang mampu berfilsafat. Kepeloporan manusia ini menjadi jalan untuk mencari keadilan dan kebenaran sesuai dengan peraturan yang berlaku, dan mengukur apakah sesuatu itu adil, benar, dan sah.

C. Paradigma dan Filsafat Hukum.
Sebagaimana dimaklumi, Filsafat Hukum pada dasarnya berintikan pembahasan tentang berbagai aliran Filsafat Hukum. Sementara itu, salah satu upaya pengembangan landasan berpikir baru di dalam lingkup Filsafat, termasuk Filsafat Hukum, adalah diadopsinya gagasan tentang ‘paradigma’, yang diperkenalkan pertama-kali ke pada ‘sain’ (science) oleh teoritisi fisika Thomas S. Kuhn di awal dekade 60-an. Dalam konteks ini, ‘paradigma’ dapat dipahami sebagai sebuah disciplinary matrix, yakni suatu pangkal atau sumber sekaligus wadah, dari mana suatu disiplin ilmu pengetahuan dianggap bermula dan diharapkan akan terus mengalir. Kata ‘paradigma’ atau paradigm itu sendiriditurunkan dari kata campuran, gabungan, atau amalgamasi dalam bahasa Yunani paradeigma. Dalam hal ini para berarti ‘di sebelah’, ‘di samping’, ‘di sisi’, ‘berdampingan’, atau ‘di tepi’, sedangkan deiknunai atau deigma bermakna ‘melihat’ atau ‘menunjukkan’.
Di dalam komunitas ilmiah, ‘paradigma’ antara lain dipandang sebagai keseluruhan konsep yang diterima oleh sebagian besar anggota suatu komunitas intelektual sebagai sebuah ‘sain’ (science), dikarenakan ke-efektif-annya di dalam menjelaskan suatu proses, ide, atau sekumpulan data yang kompleks. Lebih daripada sekedar kumpulan teori, paradigma mencakup berbagai komponen praktek praktek ilmiah di dalam sejumlah bidang kajian yang ter-spesialiasi. Paradigma juga akan, di antaranya, menggariskan tolok ukur, mendefinisikan standar ketepatan yang dibutuhkan, menetapkkan metodologi penelitian mana yang akan dipilih untuk diterapkan, atau cara bagaimana hasil penelitian akan di interpretasi. Ini berarti, makna paradigma meliputi keseluruhan koleksi, kombinasi, gabungan, atau campuran dari komitmen yang dianut dan diterapkan oleh anggota-anggota suatu komunitas ilmu pengetahuan secara bersama-sama, yang, untuk waktu tertentu, menawarkan model permasalahan berikut pemecahan-nya kepada komunitas dimaksud. Secara tipikal paradigma mendefinisikan bagi penganut atau pemakainya, baik disadari maupun tidak, apa yang dapat dianggap/diterima sebagai bidang, disiplin, atau cabang ilmu pengetahuan vang digeluti sekaligus bagaimana cara mereka mewujudkan karya dan karsa mereka di dalam-nya. Pada tataran inilah berbagai konsep paradigma yang lebih formal disadari, direnungkan dan diperdebatkan . Dalam kaitan ini, ilmu hukum, ilmu sosial, atau bidang ilmu lainnya, sebenarnya bisa dikatakan mengakui adanya lebih dari satu paradigma atau ‘multi¬paradigmatik’. Dalam hal ini, multi-paradigmatik dimaknai sebagai ‘me-refleksi-kan interpretasi berbagai pokok persoalan dari bidang bidang ilmu dimaksud secara majemuk, bervariasi, bahkan tidak jarang berseberangan’. Paradigma dengan demikian merupakan sebuah konsep ―seringkali diasumsikan atau dianut begitu saja tanpa disadari― yang memungkinkan seseorang atau sekelompok masyarakat [katakanlah masyarakat ilmiah, begitu] untuk melihat dan memahami dunia dengan segala isinya. Dengan demikian, paradigma sesungguhnya adalah bukan pikiran (thought) yang kita miliki, melainkan kerangka [berpikir] (framework) di mana pikiran kita dibentuk dan dibangun. Demikianlah, aliran Filsafat [Hukum] pada galibnya tidak sama dengan paradigma. Setiap aliran Fisafat [Hukum] sebenarnya merupakan bagian ―dan bisa dikatakan pengejawantahan atau terlahir atau berakar― dari suatu paradigma tertentu. Paradigma dalam kaitan ini diyakini dapat memberikan manfaat berupa pemahaman tentang nuansa atau gradasi perbedaan di antara berbagai aliran Filsafat Hukum, yang dipilah ke dalam pola yang ada sesuai dengan paradigma masing-masing.

D. Filsafat Hukum Lebih Jauh Tentang Paradigma.
Berbagai pandangan dengan kajian kepustakaan mengenai Paradigma, akan kita temukan berbagai definisi,perumusan, ataupun uraian yang diutarakan oleh para penulismya.
KUHN (1962), TENTANG PARADIGMA :
Pengertian sederhana :
– model, percontohan, representatif, tipikal, karakteristik atau ilustrasi dari solusi permasalahan
atau pencapaian dalam suatu bidang ilmu pengetahuan.
Pengertian Lanjutan :
• tidak hanya terbentuk oleh teori-teori semata.
• merupakan suatu masterpiece yang mencakup semua unsur praktek-praktek ilmiah di dalam sejumlah area of inquiry atau bidang studi/penelitian yang terspesialisasi.
• menggariskan parameter-parameter penting mana yang akan diukur, mendefinisikan standar ketepatan yang dibutuhkan, menunjukkan cara bagaimana (hasil) observasi akan diinterpretasi, serta metoda eksperimen mana yang akan dipilih untuk diterapkan.
• Keseluruhan koleksi, kelompok, kombinasi, gabungan, paduan, campuran dari komitmen yang diterima, diakui, diyakini, dianut, dipegang, dipakai atau diterapkan bersama oleh anggota-anggota komunitas ilmu pengetahuan tertentu
• Pencapaian ilmu pengetahuan yang diakui secara universal yang untuk waktu tertentu memberikan model permasalahan berikut pemecahan permasalahan tersebut kepada suatu komunitas praktisi (dari suatu bidang, disiplin atau cabang ilmu pengetahuan)
• Pengertian (deskriptif) yang lebih luas dari paradigma tersebut disebut sebagai disciplinary matrix, yakni suatu pangkal, wadah, tempat cetakan, sumber atau kandungan di/dari mana suatu disiplin ilmu pengetahuan dianggap bermula, berasal, berakar, dicetak, bersumber/mengalir, terlahir atau dijadikan
TENTANG TEORI
NEUMAN (1991) :
 Suatu sistem yang tersusun oleh berbagai abstraksi yang berinterkoneksi satu sama lainnya atau berbagai ide yang memadatkan dan meng-organisasi pengetahuan tentang ‘dunia’; dan cara yang ‘ringkas’ untuk berpikir tentang dunia dan bagaimana dunia itu bekerja

SARANTAKOS (1993) :
 Suatu set/koleksi/kumpulan/gabungan ‘proposisi’ yang secara logis terkait satu sama lain dan diuji serta disajikan secara sistematis
 Dibangun dan dikembangkan melalui research dan dimaksudkan untuk menggambarkan dan menjelaskan suatu ‘phenomena’
 Pernyataan yang terkonstruksi secara logis yang meringkas dan mengorganisasi pengetahuan di dalam area (atau bidang/disiplin/cabang ilmu pengetahuan atau ‘studi’) tertentu.
 (di segala waktu dan tempat) juga terbuka untuk di-’test’, di- ‘reformulasi’, di-’modifikasi’, dan di- ‘revisi’.
Gregory (1986) :
 paradigma adalah berbagai working asumptions, prosedur, dan temuan yang secara rutin diterima atau diakui oleh sekelompok scholar, yang keseluruhannya mendefinisikan suatu pola aktivitas ilmah/ilmu pengetahuan yang stabil; pola ini pada gilirannya akan mendefinisikan komunitas [scholar tadi] yang berbagi [atau menganut/memegang/memakai] paradigma [yang sama] tersebut.
Patton (1990) :
 paradigma adalah suatu set ‘proposisi’ yang menjabarkan bagaimana dunia ini dilihat/dipahami/diterima,
 paradigma mengandung suatu worldview, yakni suatu cara melalui mana kompleksitas dunia ini dipecah/dipilah agar mudah dimengerti,
 secara umum paradigma menggariskan bagi researcher ‘apa yang penting’, ‘apa yang legitimate’, dan ‘apa yang reasonable’.
Neuman (1991) :
 paradigma serupa dengan ‘pendekatan’ atau approach maupun ‘tradisi’,
 Paradigma adalah suatu orientasi dasar terhadap teori dan research,
 paradigma merupakan keseluruhan sistem berpikir atau system of thinking yang meliputi :
• asumsi dasar,
• [research] question yang harus dijawab atau teka-teki [ilmiah] yang hendak dipecahkan,
• berbagai teknik atau metoda penelitian yang akan diterapkan, serta
• beraneka contoh bagaimana sebenarnya penelitian ilmiah yang baik itu.

Tentang Tradisi
Laudan (1977) :
 statik dan terstruktur
 tradisi adalah suatu set asumsi umum tentang berbagai entity dan proses di dalam domain studi tertentu, serta tentang metoda yang tepat dan sesuai guna meng-investigasi permasalahan dan meng-konstruksi teori di dalam domain tersebut,
 berbagai tradisi dari beragam domain studi membentuk disciplinary matrix seperti dijabarkan oleh Kuhn (1962), disciplinary matrix ini sebenarnya adalah paradigma,
 tradisi merupakan bagian dari paradigma,
 ilmu pengetahuan beroperasi dengan paradigma dan dikemudikan oleh tradisi.
Kembali Tentang Paradigma
Sarantakos (1993) :
 paradigma dapat dipadankan atau disetarakan dengan ‘perspektif’ (perpectiv).
Denzin dan Lincoln (1994) :
 tidak sependapat,
 perspektif pada dasarnya ber-derajat di bawah paradigma, karena ia adalah suatu sistem belief yang kurang atau belum terlalu berkembang sebagaimana halnya dengan paradigma,
 tidak akan terlalu bermasalah bila komponen-komponen penyusun suatu perspektif saling dipertukarkan dengan komponen-komponen perspektif lainnya.
Guba dan Lincoln (1994) :
 paradigma terbangun atau tersusun dari jaringan premise [yakni pernyataan dari mana sebuah kesimpulan dapat diambil secara logis] ontologis, epistemologis, dan metodologis,
 paradigma terdiri dari koleksi/kumpulan/gabungan belief ‘dasar’ yang memandu langkah/tindakan/perbuatan (action) para penganut/pemegang/pemakai paradigma dimaksud,
 paradigma adalah suatu koleksi/kumpulan/gabungan (set /system) belief ‘dasar’ yang berkenaan/berurusan dengan prinsip-prinsip utama dan/atau pertama,
 paradigma me-representasi-kan suatu world view yang men-definisi-kan ─bagi penganut/pemegang/pemakai-nya─ sifat [dan ciri] ‘dunia’ ─yakni tempat/posisi para individu maupun kelompok individu di dalamnya─, serta rentang hubungan/keterkaitan yang mungkin antara individu maupun kelompok individu tersebut dengan ‘dunia’ berikut bagian-bagiannya.

E. Relasi dan Relevansi Belajar Paradigma Dalam Filsafat Hukum.
Paradigma dan Filsafat hukum memiliki relasi dan relevansi yang strategis karena Sebagaimana dimaklumi, Filsafat Hukum pada dasarnya berintikan pembahasan tentang berbagai aliran Filsafat Hukum. Sementara itu, salah satu upaya pengembangan landasan berpikir baru di dalam lingkup Filsafat, termasuk Filsafat Hukum, adalah diadopsinya gagasan tentang ‘paradigma’, yang diperkenalkan pertama-kali ke pada ‘sain’ (science) oleh teoritisi fisika Thomas S. Kuhn di awal dekade 60-an. Dalam konteks ini, ‘paradigma’ dapat dipahami sebagai sebuah disciplinary matrix, yakni suatu pangkal atau sumber sekaligus wadah, dari mana suatu disiplin ilmu pengetahuan dianggap bermula dan diharapkan akan terus mengalir.
Paradigma dengan demikian merupakan sebuah konsep seringkali diasumsikan atau dianut begitu saja tanpa disadari yang memungkinkan seseorang atau sekelompok masyarakat [katakanlah masyarakat ilmiah, begitu] untuk melihat dan memahami dunia dengan segala isinya. Dengan demikian, paradigma sesungguhnya adalah bukan pikiran (thought) yang kita miliki, melainkan kerangka [berpikir] (framework) di mana pikiran kita dibentuk dan dibangun. Demikianlah, aliran Filsafat [Hukum] pada galibnya tidak sama dengan paradigma. Setiap aliran Fisafat [Hukum] sebenarnya merupakan bagian ―dan bisa dikatakan pengejawantahan atau terlahir atau berakar― dari suatu paradigma tertentu. Paradigma dalam kaitan ini diyakini dapat memberikan manfaat berupa pemahaman tentang nuansa atau gradasi perbedaan di antara berbagai aliran Filsafat Hukum, yang dipilah ke dalam pola yang ada sesuai dengan paradigma masing-masing.
Demikian penulis paparkan dalam relasi dan relevansi belajar paradigma dalam filsafat hukum yang penulis ambil dan penulis ringkas dari bahan mata kuliah pertemuan awal sampai pertemuan terakhir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s